12 ORDO TANAH
1. Alfisol
(Horison Argilik, KB Tinggi)
Alfisol adalah
tanah yang relative muda, masih banyak mengandung mineral primer yang mudah
lapuk, mineral liat kristalin dan kaya unsur hara.
Syarat yang
harus dipenuhi untuk menentukan tanah Alfisol yaitu :
Ditemukan
mineral liat kristalin yang sedang jumlahnya.
Terjadi
akumulasi liat kristalin tersebut di horizon B yang jumlahnya memenuhi syarat
horizon argilik atau kandik.
Alfisol
terbentuk di bawah vegetasi hutan berdaun lebar. Proses pembentukan Alfisol
melalui urutan sebagai berikut :
Pencucian karbonat
Pencucian besi
dan braunifikasi
Pembentukan epipedon okhrik (horizon A)
Pembentukan
horizon albik
Pengendapan
argillan
Alfisol
merupakan tanah yang subur, banyak digunakan untuk pertanian, rumput ternak,
atau hutan. Tanah ini mempunyai
kejenuhan basa tinggi, kapasitas tukar kation tinggi, dan cadangan unsure hara
tinggi.
2. Andisol
(Sifat Andik, Epipedon Melanik)
Andisol adalah
tanah yang berkembang dari bahan volkanik seperti abu volkan, batuapung,
sinder, lava, dan sebagainya. Atau bahan volkaniklastik yang fraksi koloidnya
oleh mineral “short-range-order” (alophan, imogolit, ferihidrit) atau kompleks
Al-humus. Tanah andisol memiliki sifat andik dan merupakan epipedon melanik.
Persyaratan
minimum untuk ordo Andisol yaitu ≥ 60% dari 60cm tanah teratas atau ≥ 60% tanah
sampai kontak litik (lebih dangkal, mempunyai sifat andik dapat dipenuhi.
3. Aridisol
(Wilayah Padang Pasir----Daerah Arid)
Aridisol adalah
tanah yang kering lebih dari 6 bulan setiap tahun dan tidak pernah lembab 90
hari berturut-turut.
Tanah di daerah
kering biasanya berpasir, berbatu, dan jarang ditumbuhi vegetasi. Entisol
meupakan inklusi yang umum terdapat pada Aridisol.
Kandungana bahan
organic dipermukaan tanah ini rendah. Kegiatan mikroorganisme rendah. C-N rasio
rendah yangmungkin diakibatkan oleh kegiatan bakteri nitrifikasi dan blue green algae pengikat N yang membentuk permukaan
dari beberapa jenis tanah ini.
Sifat umum yang
terdapat pada tanah-tanah di daerah arid adalah adanya lapisan akumulasi
karbonat yang disebut caliche.
Selain itu, sering juga ditemukan horizonsalik dan natrik.
4. Entisol
(Tanah Muda)
Entisol
merupakan tanah yang baru berkembang. Walaupun demikian, tanah ini tidak hanya
berupa bahan induk dan bahan asal tanah saja tetapi harus sudah terjadi proses
pembentukan tanah yang menghasilkan epipedon okhrik.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pembentukan tanah Entisol yaitu :
Iklim yang
sangat kering sehingga pelapukan dan reaksi reaksi kimia berjalan lambat.
Erosi yang kuat,
dapat menyebabkan bahan-bahan yang dierosikan lebih banyak daripada yang
dibentuk melalui proses pembentukan tanah.
Pengendapan
secara terus menerus, menyebabkan pembentukan horizon lebih lambat daripada
pengendapan.
Imobilisasi plasma tanah menjadi bahan inert.
Bahan induk yang
sangat sukar melapuk (inert) atau tidak permeabel sehingga air sukar menyerap
dan reaksi-reaksi tidak berjalan.
Bahan induk yang
tidak subur atau mengandung unsure-unsur beracun bagi tanaman atau organisme
lain. Diferensiasi oleh bahan organic tidak dapat terjadi.
Selalu jenuh air
atau tergenang, dapat menghambat perkembangan horizon.
Waktu yang
singkat tidak memungkinkan perkembangan tanah.
Perubahan yang
drastis dari vegetasi.
5. Histosol
(Histik----Jaringan Tanaman)
Histosol
terbentuk bila produksi dan penimbunan bahan organic lebih besar dari
mineralisasinya.
Pembentukan
histosol tidak dipengaruhi oleh iklim sehingga tanah ini dapat ditemukan
berasosiasi dengan segala macam tanah.
Histosol
mempunyai daya memegang air yang sangat tinggi, baik atas dasar volume atau
berat tanah.
6. Inceptisol
(Tanah Dengan Horison Kambik)
Inceptisol
adalah tanah yang belum matang (immature) dengan perkembangan profil yang lebih
lemah dibanding dengan tanah matang, dan masih menyerupai sifat bahan induknya.
Factor yang
mempengaruhi pembentukan Inceptisol yaitu :
Bahan induk yang
sangat resisten.
Posisi dalam landscape yang ekstrim yaitu daerah curam atau
lembah.
Permukaan
geomorfologi yang muda, sehinnga pembentukan tanah belum lanjut.
7. Mollisol (
Epipedon Mollik)
Mollisol adalah
tanah dengan epipedon mollik.
Syarat
pengklasifikasian tanah sebagai mollisol adalah memiliki epipedon mollik,
bagian tanah di bawah epipedon mollik sampai kedalaman 180 cm dan harus
mempunyai KB (NH4OAc) ≥ 50%.
Proses
pembentukan tanah yang terpenting adalah melanisasi yaitu proses pembentukan
tanah berwarna gelap karena penambahan bahan organic. Proses ini merupakan
kumpulan beberapa proses yaitu :
Prolifirasi
akar-akar rumput, yaitu penyebaran akar-akar ke dalam tanah profil tanah.
Pelapukan bahan
organic di dalam tanah membentuk senyawa-senyawa yang stabil dan berwarna gelap
(polisakharida dan liat).
Pencampuran
bahan organic dan bahan mineral tanah karena kegiatan organisme sehingg aterbentuk kompleks
mineral-organik yang berwarna kelam, krotovinas atau gundukan-gundukan.
Eluviasi dan
iluviasi koloid organic dan beberapa koloid mineral melalui rongga-rongga
tanahsehingga terdapat selaput bahan organic yang berwarna hitam disekeliling
struktur tanah.
Pembentukan
senyawa lingo protein yang resisten sehingga warna tanah menjadi hitam meskipun
telah lama diusahakan untuk pertanian.
8. Oxisol
(Oksida-Oksida Besi, Horizon Oksik)
Oxisol adalah
tanah mineral yang kaya akan seskuiosida, telah mengalami pelapukan lanjut, dan
banyak terdapat di daerah sekitar khatulistiwa.
Tanah ini
dicirikan oleh adanya horizon oksik pada kedalaman kurang dari 1,5 m atau bila
kadar liat pada 18 cm teratas > 40% dapat memenuhi syarat horizon oksik dan ditemukan pada kedalaman kurang
dari 100 cm.
Proses
pembentukan tanah yang utama pada oxisol adalah proses desilikasi, akumulasi
relative besi dan Al bebas), pembentukan Plinthite, melanisasi dan humifikasi,
gleisasi, dan pedoturbasi.
9. Spodosol
(Horison Spodik)
Tanah Spodosol
dicirikan oleh adanya lapisan pasir masam berwarna putih abu-abu (horizon albik) di atas lapisan lempung
berpasir yang berwarna gelap.
Horizon penciri
untuk spodosol adalah adanya horizon spodik baik lapisan atas merupakan lapisan
olah yang berwarna gelap ataupun berupa horizon albik. Keadaan yang diperlukan
untuk pembentukan tanah spodosol dalam keadaan dimana kombinasi factor-faktor
pembentuk tanah dapat menghasilkan suatu akumulasi besi, alumunium dan bahan
organic di horizon bawah.
Factor-faktor
pembentuk yanah yang dapat menghasilkan sifat-sifat tersebut, antara lain :
Bahan
induk : umumnya berlempung sampai berpasir.
Iklim : boreal (dingin) atau iklim lain
Topografi : datar
Vegetasi :conifer (berdaun jarum) atau campuran conifer dan
deciduous (berdaun lebar)
Waktu : 200 _ 2000 tahun
Proses
pembentukan tanah yang utama adalah pedsolisasi. Pedsolisasi adalah kumpulan
dari babarapa proses yang menghasilkan translokasi bahan organic, besi dan
alumunium (dan sedikit P) dari lapisan atas tanah ke lapisan bawah, karena
pengaruh ion H+dan senyawa-senyawa organic. Proses ini melliputi
hal-hal berikut :
Akumulasi bahan
organic
Pencucian dan
pemasaman
Pelapukan
mineral
Pemindahan bahan
organic, Fe, Al (dan sedikit P, Mn,dan liat) dari horizon A ke horizon B
Immobilisasi Fe
dan Al bersama asam humik dan asam fulvik (dan liat) di horizon B
Pembentukan pellet dari selaput organic
Pengurangan Bulk
Density
Pemadasan
10. Ultisol
(tanah-Tanah Dengan Pelapukan Lanjut, KB Rendah)
Ultisol hanya
ditemukan di daerah-daerah dengan suhu rata-rata lebih dari 8oC. Ultisol adalah
tanah dengan horizon argilik atau kandik bersifat masam dengan kejenuhan basa
rendah. Kejenuhan basa (jumlah kation) pada kedalaman 1,8 m dari permukaan
tanah kurang dari 35 persen, sedang kejenuhan basa pada kedalaman kurang dari
1,8 m dapat lebih rendah atau lebih tinggi dari 35 persen.
Proses
Pembentukan Tanah
Faktor-faktor
pembentuk tanah yang banyak mempengaruhi pembentukan untisol adalah:
Bahan induk:
bahan induk tua, misalnya batuan liat, atau batuan vulkanik masam.
Iklim: harus
ckup panas dan basa, di daerah iklim sedang dengan suhu tanah rata-rata lebih
dari 8 Celcius, sampai di daerah tropika.
Vegetasi: di
daerah iklim sedang didominasi oleh pinus. Di Indonesia vegetasi hutan tropika.
Ralief: Berombak
sampai berbukit.
Umur: Tua
Proses
pembentukn tanah ultisol meliputi beberapa proses sebagai berikut:
1) Pencucian yang ekstensif terhadap
basa-basa merupakan prasyarat.
2) Karena suhu yang cukup panas dan
pencucian yang kuat dalam waktu yang cukup lama, akibatnya terjadi pelapukan
yang kuat terhadap mineral mudah lapuk, dan terjadi pembentukan mineral liat
sekunder dan oksida-oksida.
3) Lessivage, menghasilkan horizon albik
di lapisan atas, dan horizon argilik di lapisan bawah
4) Biocycling, meskipun terjadi pencucian
yang intensif tetapi jumlah basa-basa di permukaan tanah cukup tinggi dan
menurun dengan kedalaman.
5) Pembentukan plinthite dan fragipan,
plinthie dan fragipan bukan sifat yang menentukan tetapi sering ditemukan pada
Ultisol.
6) Perubahan horizon umbrik menjadi
molik. Ultisol dengan epipedon umbrik dapat berubah menjadi epipedon mollik
akibat pengapuran
11 Vertisol
(Sifat vertik)
Bahan induk
Vertisol umumnya bersifat alkalis, misalnya batuan sedimen berkapur, betuan
beku basa, atau endapan alluvium dari bahan-bahan tersebut.
Proses
pembentukan tanah telah menghasilkan suatu bentuk mikrotopografi yang khusus
yang terdiri dari cekunagn dan gundukan kecil yang biasa disebut topograpi
gilgai
12. Gelisol
Merupakan tanah
mineral atau organik di daerah kutub yang mengalamicryoturbasi sehingga membentuk horison yang
tidak teratur, pencampuran horison, akumulasi bahan organik di atas dan di
dalam permafrost, fragmen, batuan teroriemtasi dan lapisan-lapisan yang
diperkaya debu.
Proses crypedogenik yang menghasilkan bahan gelik
disebabkan oleh perubahan volume dari air menjadi es, perpindahan air sepanjang
gradien termal dalam sistem yang membeku dan lain-lain.
Karena suhu yang
sangat rendah sepanjang tahun (permafrost), maka tidak ada tanaman yang tumbuh
di daerah ini. (Hardjowigeno, 2003, Klasifikasi
Tanah dan Pedogenesis)
EROSI BO
EROSI TANAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN
I.EROSI MERUSAK KESUBURAN TANAH
Dengan adanya erosi tanah, maka lapisan tanah
atas yang subur akan rusak dan menjadikan lingkungan alam lainnya akan rusak.
Adapun sebab-sebab erosi tanah karena beberapa hal berikut.
· Tanah
gungul atau tidak ada tanamannya.
· Tanah
miring tidak dibuat teras-teras dan guludan sebagai penyangga air dan tanah yang
larut.
· Tanah
tidak diberi tanggul pasangan pasangan sebagai penahan erosi.
· Tanah
di kawasan hutan rusak karena pohon-pohon ditebang secara liar sehingga hutan
menjasi gundul.
· Permukaan
tanah yang berlumpur digunakan untuk penggembalaan liar sehingga tanah atas
semakin rusak
· Lapisan
tanah atas merupakan bagian optimum bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan.
Komponen-komponen tanah adalah berupa mineral, bahan
organik, air, dan udara. Keadaan tanah yang serasi bias menjadi habitat
tumbuh-tmbuhan kalau perbandingan komponen-komponennya sebagai berikut: mineral
45%, bahan organic 5%, air antara 20-30%, dan udara tanah antara 20-30%.
Dipermukaan bumi, lahan atau tanah mempunyai kemampuan
yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut disebebkan oleh beberapa hal, antara
lain:
1. Tekstur tanah.
2. Permeabilitas tanah.
3. Ketebalan atau solum tanah.
4. Kemiringan lereng.
5. Tingkat erosi.
6. Penyaluran air.
Tekstur
tanah didefinisikan sebagai perbandingan delatif berbagai golongan besar
partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara
fraksi-fraksi pasir, debu, dan lempung.
Pasir, debu dan lempengan disebut partikel zarah tanah.
Berdasarkan ukurannya (diameter butirnya), partikel tanah dikelompokkan menjadi
tiga fraksi, yaitu fraksi tanah, fraksi debu, dan fraksi lempung. Butir-butir
tanah ataubatuan yang berdiameter di atas 2 mm disebut gravel dan tidak termasuk fraksi tanah.
Kalau unsur-unsur tanah hanya terdiri dari butiran
butiran pasir, tekstur tanah itu kasar. Sebaliknya bila unsur-unsur tanah hanya
terdiri dari lempung, tekstur tanah yang idela untuk pertanian adalah gelug,
yaitu tanah yang lekat. Dalam pembuatan kerajinan keramik, bata, dan genteng,
fraksi lempung sangat diperlukan. Penentuan kelas tekstur tanah dapat dilakukan
dengan pedoman seperti grafik.
II.Tekstur dan Kesuburan Tanah
Tanah yang banyak ditumbuhi
tumbuh-tumbuhan lebih subur daripada tanah gundul atau ada tumbuh-tumbuhannya,
karena didalamnya terkandung lapisan bunga tanah yang tidak terkena erosi. Akan
tetap,ibila hutan-hutan ditebang tanpa batas, apalagi di daerah yang miring,
maka erosi oleh air maupun angin dapat dengan mudah terjadi di tanah bekas
injakan-injakan binatang.
Ciri-ciri tanah subur antara lain:
tekstur dan struktur tananya baik, yaitu butir-butir tanahnya tidak terlalu
besar dan tidak terlalu kecil; banyak mengandung garam yang berguna untuk
makanan tumbuh-tumbuhan; dan banyak mengandung air untuk melarutkan
garam-garaman
Tekstur tanah menunjukkan proporsi
pelatif dari ukuran partikel-partikel tanah. Rentangan ukuran partikel yan
terbesar dapat dijumpai dalam kelompok tamah lempung (clay) yang
diameter partikel-partikelnya mempunyai ukuran 0,0002 mm hingga hamper sebesar
molekul. Struktur tanah adalah susunan butir-butir suatu tanah. Pada umumnya,
komposisi tanah terdiri dari 90% bahan mineral, 1-5% bahan organik, 0,9% udara
dan air.
Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi tekstur tanah antara lain komposisi mineral dan batuan /
bahan induk, sifat, dan cepatnya proses pembentkan tanah lokal, serta umur
relatif tanah.
Hubungan antara tekstur dan
kesuburan tanah tidak selalu ada meskipun tekstur tanah dapat menentukan atau
bepengaruh dalam beberapa hal berikut.
· Pengerjaan tanah, misalnya tanah berpasir di daerah iklim
basah biasanya cepat terurai. Selain itu, tanah tersebut berkapasitas rendah
dalam menahan air, sehingga mudah mongering. Dengan menambah bahan-bahan
organis, maka kesuburan tanah tersebut dapat ditingkatkan.
· Pengerjaan tanah berpasir di daerah beriklim kering (arid).
Tanah di sini meskipun kadar bahan makanannya cukup tinggi, tetapi nilai
kesuburannya rendah karena minimnya presipitasi, pencucian, dan rendahnya
kapasitas menahan air.
· Pengerjaan tanah lempung. Dipandang dari sudut mudah
tidaknya dikerjakan dan komposisi kimiawinya, tanah lempung mempnyai sifat yang
bermacam-macam, diantaranya bersifat plastis dan sukar untuk diolah bila basah,
serta keras jika kering. Namun, di daerah iklimtrpis basah tanah lempung
memiliki permeabilitas walaupun rendah.
Permeabilitas tanah adalah
cepat lambatnya air meresap ke dalam tanah melalui pori-pori tanah baik kearah
horizontal maupun ke arah vertical. Cepat / lambatnya perembesan
air ini sangat ditentukan oleh tekstur tanah. Semakin kasar tekstur tanah
semakin cepat perembesan air.
Ketebalan atau solum tanah
menunjukkan berapa tebal tanah diukur dari permukaan sampai ke batuan induk.
Erosi menyangkut banyaknya partikel-partikel tanah yang terpindahkan. Drainase
adalah pengeringan air yang berlebihan pada tanah yang mencakup proses
pengatusan dan pengaliran air yan berada dalam tanah atau permukaan tanah yang
menggenang .
III.Menjaga Kesuburan Tanah dan Usaha
Mengurangi Erosi Tanah
Kesuburan tanah dapat dijaga dengan usaha-usaha sebagai
berikut.
· Pemupukan, diusahakan dengan pupuk hijau, pupuk kandang,
pupuk buatan, dan pupuk kompos.
· Sistem irigasi yang baik, misalnya membuat
bendungan-bendungan.
· Pada lereng-lereng gunung dibuat hutan-hutan cadangan.
· Menanami lereng-lereng yang telah gundul.
· Menyelanggarakan pertanian di daerah miring secara benar.
Kemiringan lereng adalah kemiringan suatu lahan terhadap
hiding horizontal. Semakin besar sudut kemiringan lahan tertentu akan semakin
besar kemungkinan erosi dan longsor.
kestabilan lahan pertanian daerah miring dan untuk
mengurangi tingkat erosi tanah, maka diperlukan beberapa langkah berikut.
1. Terasering, Yaitu menanam tanaman dengan system berteras-teras untuk
mencegah erosi tanah.
2. Contour
Farming, yaitu menanami lahan menurut garis kontur, sehingga
perakaran dapat menahan tanah.
3. Pembuatan tanggul
pasangan(guludan) untuk menahan hasilm erosi.
4. Contour
Plowing, yaitu membajak searah garis contur sehingga terjadi
alur-alur horizontal.
5. Contour Strip
Cropping, yaitu bercocok tanam dengan cara membagi bidang tanah itu
dengan bentuk sempit dan memanjang dengan mengikuti garis kontur sehingga
bentuknya berbelok-belok. Masing–masing ditanami tanaman yang berbeda-beda
jenisnya secara berselang-seling (tumpang sari).
6. Crop Rotation, yaitu usaha pergantian jenis tanaman supaya tanah tidak
kehabisan salah satu unsur hara akibat diisap terus oleh salah satu jenis
tanaman
7. Reboisasi, menanami kembali hutan- hutan yang gundul.
Tingkat erosi suatu lahan akan
sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanah untuk pertanian. Semakin tinggi /
besar tingkat erosi tanah permukaannya berarti semakin tidak subur dan tidak
cocok untuk tanaman petanian pangan.
Pengaturan air (drainage) suatu lahan juga berpengaruh terhadap kondisi kesuburan
tanah. Jika pengaturan air jelek, maka tanah akan tergenang bagian
permukaannya.
Tidak semua lahan di permukaan bumi
dapat dimanfaatkan secara langsung oleh manusia karena terdapat kendala-kendala
tertentu, seperti adanya lahan yang tertutup es yang tebal yaitu lahan di kutub
dan di pegunungan tinggi, tanah-tanah yang gersang dengan suhu terlalu tinggi
seperti lahan-lahan di gurun, lahan-lahan yang tidak subur, serta lahan-lahan
yang terdiri atas batu cadas, yang semuanya sangat sulit diolah. Hanya
lahan-lahan yang secara kualitatif sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan dalam
pemenuhan kebutuhan manusia disebut lahan potensial.
Lahan potensial yang ada di
permukaan bumi dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk nonpertanian antara lain
dalam bentuk:
1. Pemanfaatan untuk
lokasi industri.
2. Pemanfaatan untuk
lokasi perdagangan.
3. Pemanfaatan untuk
wilayah pemukiman.
4. Pemanfaatan untuk
fasilitas-fasilitas sosial seperti hiburan, prasarana, transportasi dan fasilitas-
fasilitas sosial lainnya.
Faktor lain yang perlu diperhatikan
dalam pengolahan lahan pertanian ialah produktivitas tanah pada lingkungan yang
normal untuk menghasilkan tanaman tertentu. Contoh: tingkat produktivitas tanah
bila ditanami padi adalah 5 ton/ha. Jadi produktivitas tanah menunjukkan
tingkat produksi dan tiap satuan luas untuk tanaman tertentu.
Tingkat produktivitas tanah
sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah, curah hujan, suhu, kelembaban udara,
system pengolahan lahan, dan pemilihan jenis tanaman. Upaya peningkatan
produktivitas lahan ini disebut program Panca usaha tani yang meliputi:
1. Pengolahan lahan.
2. Pengairan.
3. Cara pemupukan.
4. Pemberantasan hama
dan penyakit
5. Teknik penanaman
IV.Lahan Kritis dan Lahan Potensial
Lahan kritis adalah lahan yang
tidak produktif. Meskipun dikelola, produktivitas lahan kritis sangat rendah.
Bahkan, dapat terjadi jumlah produksi yang diterima jauh lebih sedikit daripada
biaya pengelolaannya. Lahanini bersifat tandus, gundul, tidak dapat digunakan
untuk usaha pertanian, karena tingkat kesuburannya sangat rendah.
Faktor- Faktor yang menyebabkan terjadinya lahan kritis,
antara lain sebagai berikut:
· Kekeringan, biasanya terjadi di daerah-daerah bayangan
hujan.
· Genangan air yang terus-menerus, seperti di daerah pantai
yang selalu tertutup rawa-rawa.
· Erosi tanah dan masswasting yang biasanya terjadi di daerah
dataran tinggi, pegunungan, dan daerah yang miring. Masswasting adalah gerakan masa tanah menuruni
lereng.
· Pengolahan lahan yang kurang memperhatikan aspek-aspek
kelestarian lingkungan. Lahan kritis dapat terjadi di dataran tinggi,
pegunungan, daerah yang miring, atau bahkan di dataran rendah.
· Masuknya material yang dapat bertahan lama kelahan
pertanian (tak dapat diuraikan oleh bakteri) misalnya plastic. Plastik dapat
bertahan ± 200 tahun di dalam tanah sehingga sangat mengganggu kelestaian
kesuburan tanah.
· Pembekuan air,biasanya terjadi daerah kutub atau pegunungan
yang sangat tinggi.
Pencemaran, zat pencemar seperti
pestisida dan limbah pabrik yang masuk ke lahan pertanian baik melalui aliran
sungai maupun yang lain mengakibatkan lahan pertanian baik melalui aliran
sungai maupun yang lain mengakibatkan lahan pertanian menjadi kritis.Beberapa
jenis pestisida dapat bertahan beberapa tahun di dalam tanah sehingga sangat
mengganggu kesuburan lahan pertanian.
Jika lahan kritis dibiarkan dan
tidak ada perlakuan perbaikan, maka keadaan itu akan membahayakan kehidupan
manusia, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Maka dari itu, lahan
kritis harus segera diperbaiki. Untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan oleh
adanya lahan kritis tersebut, pemerintah Indonesia telah mengambil kebijakan,
yaitu melakukan rehabilitasi dan konservasi lahan-lahan kritis di Indonesia.
Upaya penagggulangan lahan kritis
dilaksanakan sebagai berikut.
1. Lahan tanah
dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi pertanian, perkebunan, peternakan, dan
usaha lainnya.
2. Erosi tanah perlu
dicegah melalui pembuatan teras-teras pada lereng bukit.
3. Usaha perluasan
penghijauan tanah milik dan reboisasi lahan hutan.
4. Perlu reklamasi
lahan bekas pertambangan.
5. Perlu adanya usaha
ke arah Program kali bersih (Prokasih).
6. Pengolahan wilayah
terpadu di wilayah lautan dan daerah aliran sungai (DAS).
7. Pengembangan
keanekaragaman hayati.
8. Perlu tindakan
tegas bagi siapa saja yang merusak lahan yang mengarah pada terjadinya lahan
kritis.
9. Menghilangkan
unsure-unsur yang dapat mengganggu kesuburan lahan pertanian, misalnya plastik.
Berkaitan dengan hal ini, proses daur ulang sangat diharapkan.
10. Pemupukan dengan
pupuk organik atau alami, yaitu pupuk kandang atau pupuk hijau secara tepat dan
terus-menerus.
11. Guna menggemburkan
tanah sawah, perlu dikembangkan tumbuhan yang disebut Azola.
12. Memanfaatkan
tumbuhan eceng gondok guna menurunkan zat pencemaran yang ada pada lahan
pertanian. Eceng gondok dapat menyerap pat pencemar dan dapat dimanfaatkan
untuk makanan ikan. Namun, dalam hal ini kita harus hati-hati karena eceng
gondok sangat mudah berkembang sehingga dapat menggangu lahan pertanian.
Lahan potensial adalah lahan yang
belum dimanfaatkan atau belum diolah dan jika diolah akan mempunyai nilai
ekonimis yang besar karena mampunyai tingkat kesuburan yang tinggi dan
mempunyai daya dukung terhadap kebutuhan manusia. Lahan potensian merupakan
modal dasar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu harus
ditangani dan dikelola secara bijak. Daerah diluar jawa banyak memiliki daerah
produktif yang sangat potensial, tetapi belum atau tidak dimanfaatkan sehingga
daerah ini dikenal dengan daerah yan sedang tidur.
Dengan pertumbuhan penduduk dan
ekonomi, tekanan terhadap tanah semakin meningkat. Hutan di luar pualu jawa di
ubah menjadi lahan pertanian, kawasan pertambangan, dan perkebunan. Sementara
itu, lahan pertanian di pulau Jawa diubah menjadi kawasan pemukiman dan
industri serta waduk. Kehutanan, pertambangan, dan pertanian juga dapat membuat
tanah menjadi tidak produktif untuk kegiatan ekonomi lebih lanjut.
Program untuk meningkatkan produksi
pangan dan perluasan pemukiman dalam skala besar-besaran telah memberikan
kontribusi dalam pembukaan hutan dan belukar. Hal ini menyebabkan meningkatnya
erosi, berkurangnya kesuburan dan produktivitas lahan, serta hilangnya habitat.
Walaupun sejumlah kawanan alami, baik daratan maupunhutan, telah dilindungi
dari dampak kegiatan manusia melalui penetapannyasebagai cagar alam dan taman
nasional, sejumlahbesar lahan masih belum diusahakan oleh manusia secara
optimal.
Lahan potensial merupakan modal
dasar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidp manusia. Maka dari itu, harus
ditangani secara bijaksana dalam pemanfaatan lahan potensial dan jangan sampai
malah merusak lingkungan.
Lahan potensialtersebar di tiga
wilayah utama daratan, yaitu di daerah pantai, dataran rendah, dan dataran
tinggi. Lahan-lahan di wilayah pantai didominasi oleh tanah alluvial (tanah
hasil pengendapan). Tanahini cukup subur karena banyak mengandung
mineral-mineral yang diangkut bersama lumpur oleh sungai kemidian diendapkan di
daerah muara sungai.
Mulai dataran pantai sampai
ketinggian 300 m dari permukaan laut merupakan areal lahan dataran rendah. Bila
curah hujannya cukup memadai, zona dataran rendah ini merupakan wilayah lahan
hutan hujan tropis yang sangat subur.
Mulai ketinggian 500 meter di atas
permukaan laut merupakan wilayah tanah tinggi, kondisi wilayahnya merupakan
lahan bergelombang, berbukit-bukit sampai daerah pegunungan. Bagi daerah-daerah
tanah tnggi yang dipengaruhi oleh gunung berapi,kondisi lahannya di dominasi
oleh tanah vulkanik yang subur yang terkandung mineral haranya cukup tinggi.
Daerah pegunungan yang memiliki
curah hujan tinggi, merupakan daerah yang rawan erosi tanah. Selain proses
erosi, di daerah-daerah yang memiliki crah hujan tinggi keadaan tanahnya
biasanya berwarna merah kecoklatan (pucat), karena unsure-unsur hara dan
humusnya banyak tercuci dan terhanyutkan oleh air hujan. Jenis tanah ini kurang
subur. Conth tanah yang sudah banyak mengalami pencucian di antaranya tanah
latosol dan tanah podzolik serta tanah laterit.
Upaya-upaya pelestarian dan
peningkatan manfaat lahan-lahan potensial dilaksanakan antara lain dengan cara
berikut.
1. Merencanakan
penggunaan lahan yang digunakan manusia.
2. Menciptakan
keserasian da keseimbangan fungsi dan intensitas penggunaan lahan dalam wilayah
tertentu.
3. Merencanakan
penggunaan lahan kota agar jangan sampai menimbulkan dampak pencemaran.
4. Menggunakan lahan
seoptimal mungkin bagi kepentinganmanusia.
5. Memisahkan
penggunaan lahan untuk permukiman, industry, pertanian, perkantoran, dan
usaha-usaha lainnya.
6. Membuat peraturan
perundang-undangan yang meliputi pengaliahn hak atas tanah untuk kepentingan
umum dan peraturan perpajakan.
7. Melakukan pengkajian
terhadap kebijakan tata ruang, perijinan, dan pajak dalam kaitannya dengan
konversi penggunaan lahan.
8. Menggnakan
teknologi pengolahan tanah, penghijauan, reboisasi, dan pembuatan sengkedan di
aderah pegunungan.
9. Perlu usaha
pemukiman penduduk dan pengendalian peladang berpindah.
10. Mengelola dengan
baik daerah aliran sungai, daerah pesisir, dan daerah di sekitar lautan.
PENUTUP
KESIMPULAN
Bahwa terjadinya erosi tanah disebakan oleh:
· Tanah
gungul atau tidak ada tanamannya.
· Tanah
miring tidak dibuat teras-teras dan guludan sebagai penyangga air dan tanah yang
larut.
· Tanah
tidak diberi tanggul pasangan pasangan sebagai penahan erosi.
· Tanah
di kawasan hutan rusak karena pohon-pohon ditebang secara liar sehingga hutan
menjasi gundul.
· Permukaan
tanah yang berlumpur digunakan untuk penggembalaan liar sehingga tanah atas
semakin rusak
· Lapisan
tanah atas merupakan bagian optimum bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan.
Kemiringan lereng adalah kemiringan suatu lahan terhadap
hiding horizontal. Semakin besar sudut kemiringan lahan tertentu akan semakin
besar kemungkinan erosi dan longsor.
kestabilan lahan pertanian daerah miring dan untuk
mengurangi tingkat erosi tanah, maka diperlukan beberapa langkah berikut.
1. Terasering, Yaitu menanam tanaman dengan system berteras-teras untuk
mencegah erosi tanah.
2. Contour
Farming, yaitu menanami lahan menurut garis kontur, sehingga
perakaran dapat menahan tanah.
3. Pembuatan tanggul
pasangan(guludan) untuk menahan hasilm erosi.
4. Contour
Plowing, yaitu membajak searah garis contur sehingga terjadi
alur-alur horizontal.
5. Contour Strip
Cropping, yaitu bercocok tanam dengan cara membagi bidang tanah itu
dengan bentuk sempit dan memanjang dengan mengikuti garis kontur sehingga
bentuknya berbelok-belok. Masing–masing ditanami tanaman yang berbeda-beda
jenisnya secara berselang-seling (tumpang sari).
6. Crop Rotation, yaitu usaha pergantian jenis tanaman supaya tanah tidak
kehabisan salah satu unsur hara akibat diisap terus oleh salah satu jenis
tanaman
7. Reboisasi, menanami kembali hutan- hutan yang gundul.
SARAN
Saran yan g dapat saya sampaikan agar kita dapat menjaga lingkungan kita agar
erosi itu dapa dicegah. Karena apabila terjadi erosi kerugian-kerugian akan
muncul diantaranya bisa saja terjadi gagal panen, banjir,tanah longsor
dll.
DAFTAR PUSTAKA
BP2TPDAS-IBB.
2002. Lahan kritis. Balai
Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah lahan indonesia Bagian
Barat. Balitbang Kehutanan. Surakarta
Carolyn.2007. erosi tanah .http://salam.leisa.info/index.php?url.
Diakses pada tanggal 2 Mei 2010 pukul 16.50 WIB.
Widada,
2001. Erosi tanah dan Upaya Pengeolaan Lahan. http://www.azack.com/PPS702-
ipb/03112/widada.htm. Diakses pada tanggal 2 Mei 2010 pukul 15.30 WIB.
Apakah penyebab & dampak erosi tanah?
Erosi tanah adalah proses pelepasan atau pelapukan
partikel-partikel tanah oleh berbagai penyebab.
Erosi menyebabkan tanah menjadi tandus sehingga tidak dapat
ditanami. Proses erosi berpotensi dipercepat oleh campur tangan manusia.
Erosi yang amat parah membuat tanah tidak produktif sehingga
tidak ada vegetasi yang bisa tumbuh.
Tidak adanya vegetasi akan memicu kekeringan dan curah hujan
rendah. Secara keseluruhan, siklus alam akan terganggu akibat terjadinya erosi.
Penyebab Erosi Tanah
Kecepatan aliran sungai yang tinggi merupakan salah satu
penyebab utama erosi di lembah sungai dan daerah pesisir.
Tanah yag dilalui aliran sungai atau termasuk area banjir sungai
menjadi terkikis. Sedimen ini kemudian ikut terbawa aliran sungai hingga ke
hilir.
Angin merupakan agen penyebab erosi di padang pasir dan lahan
kering. Angin memiliki kemampuan mengikis batu, tanah, dll dan memindahkannya
ke zona yang berbeda.
Erosi tanah juga dapat disebabkan oleh gletser dan es. Partikel
tanah bisa terkikis bersama dengan pergerakan gletser. Jenis erosi ini biasanya
terjadi di wilayah yang tertutup es atau di dataran tinggi.
Faktor lain yang mempengaruhi erosi tanah adalah suhu, kecepatan
angin, dan tingkat curah hujan di wilayah tertentu.
Daerah yang memiliki iklim panas dan lembab, kecepatan angin
tinggi dan tingkat curah hujan sangat rendah rentan terhadap erosi tanah.
Penggembalaan ternak, penebangan hutan, dan kegiatan konstruksi
turut menyumbang terhadap terjadinya erosi.
Dampak Erosi Tanah
Erosi tanah menyebabkan pengembangan struktur topologi baru
karena pengendapan partikel tanah.
Tanah yang tererosi akan mengakibatkan penurunan produktivitas
dan kesuburan tanah.
Akibat erosi, kadar air dan kandungan berbagai mineral dan
nutrisi tanah akan sangat berkurang.
Pada akhirnya, lahan yang tandus dan tidak adanya curah hujan
akibat erosi yang parah menyebabkan kekeringan.
Pengendalian Erosi Tanah
Penggantian vegetasi, reboisasi, serta menanami lereng adalah
beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan erosi tanah.
Selain itu, penebangan hutan liar juga mesti dikendalikan.
Ladang berpindah yang banyak dipraktikkan juga harus dikurangi untuk
mengendalikan erosi.[]
neewww
Faktor
penyebab terjadinya erosi tanah
Erosi adalah proses penghancuran dan pengangkutan pertikel-partikel tanah oleh tenaga erosi (presipitasi,Angin) Proses erosi oleh air butiran air hujan mengenai tanah --> hancurnya agregat tanah terlepasnya partikel-partikel tanah--> Partikel-partikel tanah menyumbat pori-pori tanah--> Menurunkan kapasitas dan laju infiltrasi--> laju permuka'an--> energi pengangkut.
erosi fisik kimia -------> Bila aliran energi permukaan tidak mampu lagi mengangkut pastikel tanah-->partikel tanah di endapkan.
Tenaga dan faktor penyebab erosi
Erosi adalah proses penghancuran dan pengangkutan pertikel-partikel tanah oleh tenaga erosi (presipitasi,Angin) Proses erosi oleh air butiran air hujan mengenai tanah --> hancurnya agregat tanah terlepasnya partikel-partikel tanah--> Partikel-partikel tanah menyumbat pori-pori tanah--> Menurunkan kapasitas dan laju infiltrasi--> laju permuka'an--> energi pengangkut.
erosi fisik kimia -------> Bila aliran energi permukaan tidak mampu lagi mengangkut pastikel tanah-->partikel tanah di endapkan.
Tenaga dan faktor penyebab erosi
·
erosion agent/ tenaga erosi: adalah tenaga
pembawa yang berperan dalam sistem transport perpindahan tanah : presipitasi
(air hujan ,salju, hujan es, dll) Angin
·
Faktor alam dan buatan yang mempengaruhi
erosi :
E=
F(I.T.V.Tp, M)
I
= iklim
T = tanah
V = Vegetasi
Tp =Topografi
M =Management
Macam-macam erosi (Utomo.1987)
·
Erosi
alam/normal/geologi
proses pengikisan kulit bumi atau lapisan tanah yang terjadi secara
alami
cirinya :
1. Prose berjalan sangat lamban
2. Tidak ada campur tanagn manusia/ penyebabnya hanya dari alam
akibatnya terlihat setelah berpuluh-puluh tahun.
·
Erosi dopercepat (accelerat
erosion) tindakan manusia umunya bersifat mempercepat erosi sehingga erosi
sehingga erosi yang dikenal dengan erosi dipercepat (accelerat
erosion) batas erosi yang diperbolehkan (permissible erosion/PE) merupakan
nilai laju erosi yang tidak melebihi laju pembentukan tanah penentuan PE mempertimbangkan kondisi tanah dan lingkungan yang
mencakup
·
ketebalan lapisan tanah
1. Sifat fisik tanah
2. pencegahan terjadinya erosi selokan/ gully
3. penurunan bahan organik
4. kandungan hara tanah
5. kecepatan pembentukan tanah
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking