Donderdag 20 Maart 2014

12 ORDO TANAH


12 ORDO TANAH

 

1. Alfisol (Horison Argilik, KB Tinggi)
Alfisol adalah tanah yang relative muda, masih banyak mengandung mineral primer yang mudah lapuk, mineral liat kristalin dan kaya unsur hara.
Syarat yang harus dipenuhi untuk menentukan tanah Alfisol yaitu :
Ditemukan mineral liat kristalin yang sedang jumlahnya.
Terjadi akumulasi liat kristalin tersebut di horizon B yang jumlahnya memenuhi syarat horizon argilik atau kandik.
Alfisol terbentuk di bawah vegetasi hutan berdaun lebar. Proses pembentukan Alfisol melalui urutan sebagai berikut :
Pencucian karbonat
Pencucian besi dan braunifikasi
Pembentukan  epipedon okhrik (horizon A)
Pembentukan horizon albik
Pengendapan argillan
Alfisol merupakan tanah yang subur, banyak digunakan untuk pertanian, rumput ternak, atau hutan. Tanah ini  mempunyai kejenuhan basa tinggi, kapasitas tukar kation tinggi, dan cadangan unsure hara tinggi.
2. Andisol (Sifat Andik, Epipedon Melanik)
Andisol adalah tanah yang berkembang dari bahan volkanik seperti abu volkan, batuapung, sinder, lava, dan sebagainya. Atau bahan volkaniklastik yang fraksi koloidnya oleh mineral “short-range-order” (alophan, imogolit, ferihidrit) atau kompleks Al-humus. Tanah andisol memiliki sifat andik dan merupakan epipedon melanik.
Persyaratan minimum untuk ordo Andisol yaitu ≥ 60% dari 60cm tanah teratas atau ≥ 60% tanah sampai kontak litik (lebih dangkal, mempunyai sifat andik dapat dipenuhi.
3. Aridisol (Wilayah Padang Pasir----Daerah Arid)
Aridisol adalah tanah yang kering lebih dari 6 bulan setiap tahun dan tidak pernah lembab 90 hari berturut-turut.
Tanah di daerah kering biasanya berpasir, berbatu, dan jarang ditumbuhi vegetasi. Entisol meupakan inklusi yang umum terdapat pada Aridisol.
Kandungana bahan organic dipermukaan tanah ini rendah. Kegiatan mikroorganisme rendah. C-N rasio rendah yangmungkin diakibatkan oleh kegiatan bakteri nitrifikasi dan blue green algae pengikat N yang membentuk permukaan dari beberapa jenis tanah ini.
Sifat umum yang terdapat pada tanah-tanah di daerah arid adalah adanya lapisan akumulasi karbonat yang disebut caliche. Selain itu, sering juga ditemukan horizonsalik dan natrik.
4. Entisol (Tanah Muda)
Entisol merupakan tanah yang baru berkembang. Walaupun demikian, tanah ini tidak hanya berupa bahan induk dan bahan asal tanah saja tetapi harus sudah terjadi proses pembentukan tanah yang menghasilkan epipedon okhrik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah Entisol yaitu :
Iklim yang sangat kering sehingga pelapukan dan reaksi reaksi kimia berjalan lambat.
Erosi yang kuat, dapat menyebabkan bahan-bahan yang dierosikan lebih banyak daripada yang dibentuk melalui proses pembentukan tanah.
Pengendapan secara terus menerus, menyebabkan pembentukan horizon lebih lambat daripada pengendapan.
Imobilisasi plasma tanah menjadi bahan inert.
Bahan induk yang sangat sukar melapuk (inert) atau tidak permeabel sehingga air sukar menyerap dan reaksi-reaksi tidak berjalan.
Bahan induk yang tidak subur atau mengandung unsure-unsur beracun bagi tanaman atau organisme lain. Diferensiasi oleh bahan organic tidak dapat terjadi.
Selalu jenuh air atau tergenang, dapat menghambat perkembangan horizon.
Waktu yang singkat tidak memungkinkan perkembangan tanah.
Perubahan yang drastis dari vegetasi.
5. Histosol (Histik----Jaringan Tanaman)
Histosol terbentuk bila produksi dan penimbunan bahan organic lebih besar dari mineralisasinya.
Pembentukan histosol tidak dipengaruhi oleh iklim sehingga tanah ini dapat ditemukan berasosiasi dengan segala macam tanah.
Histosol mempunyai daya memegang air yang sangat tinggi, baik atas dasar volume atau berat tanah.
6. Inceptisol (Tanah Dengan Horison Kambik)
Inceptisol adalah tanah yang belum matang (immature) dengan perkembangan profil yang lebih lemah dibanding dengan tanah matang, dan masih menyerupai sifat bahan induknya.
Factor yang mempengaruhi pembentukan Inceptisol yaitu :
Bahan induk yang sangat resisten.
Posisi dalam landscape yang ekstrim yaitu daerah curam atau lembah.
Permukaan geomorfologi yang muda, sehinnga pembentukan tanah belum lanjut.
7. Mollisol ( Epipedon Mollik)
Mollisol adalah tanah dengan epipedon mollik.
Syarat pengklasifikasian tanah sebagai mollisol adalah memiliki epipedon mollik, bagian tanah di bawah epipedon mollik sampai kedalaman 180 cm dan harus mempunyai KB (NH4OAc) ≥ 50%.
Proses pembentukan tanah yang terpenting adalah melanisasi yaitu proses pembentukan tanah berwarna gelap karena penambahan bahan organic. Proses ini merupakan kumpulan beberapa proses yaitu :
Prolifirasi akar-akar rumput, yaitu penyebaran akar-akar ke dalam tanah profil tanah.
Pelapukan bahan organic di dalam tanah membentuk senyawa-senyawa yang stabil dan berwarna gelap (polisakharida dan liat).
Pencampuran bahan organic dan bahan mineral tanah karena kegiatan organisme  sehingg aterbentuk kompleks mineral-organik yang berwarna kelam, krotovinas atau gundukan-gundukan.
Eluviasi dan iluviasi koloid organic dan beberapa koloid mineral melalui rongga-rongga tanahsehingga terdapat selaput bahan organic yang berwarna hitam disekeliling struktur tanah.
Pembentukan senyawa lingo protein yang resisten sehingga warna tanah menjadi hitam meskipun telah lama diusahakan untuk pertanian.
8. Oxisol (Oksida-Oksida Besi, Horizon Oksik)
Oxisol adalah tanah mineral yang kaya akan seskuiosida, telah mengalami pelapukan lanjut, dan banyak terdapat di daerah sekitar khatulistiwa.
Tanah ini dicirikan oleh adanya horizon oksik pada kedalaman kurang dari 1,5 m atau bila kadar liat pada 18 cm teratas > 40% dapat memenuhi syarat horizon oksik dan  ditemukan pada kedalaman kurang dari 100 cm.
Proses pembentukan tanah yang utama pada oxisol adalah proses desilikasi, akumulasi relative besi dan Al bebas), pembentukan Plinthite, melanisasi dan humifikasi, gleisasi, dan pedoturbasi.
9. Spodosol (Horison Spodik)
Tanah Spodosol dicirikan oleh adanya lapisan pasir masam berwarna putih abu-abu (horizon  albik) di atas lapisan lempung berpasir yang berwarna gelap.
Horizon penciri untuk spodosol adalah adanya horizon spodik baik lapisan atas merupakan lapisan olah yang berwarna gelap ataupun berupa horizon albik. Keadaan yang diperlukan untuk pembentukan tanah spodosol dalam keadaan dimana kombinasi factor-faktor pembentuk tanah dapat menghasilkan suatu akumulasi besi, alumunium dan bahan organic di horizon bawah.
Factor-faktor pembentuk yanah yang dapat menghasilkan sifat-sifat tersebut, antara lain :
Bahan induk                : umumnya berlempung sampai berpasir.
Iklim                            : boreal (dingin) atau iklim lain
Topografi                    : datar
Vegetasi                      :conifer (berdaun  jarum) atau campuran conifer dan deciduous (berdaun lebar)  
Waktu                         : 200 _ 2000 tahun
Proses pembentukan tanah yang utama adalah pedsolisasi. Pedsolisasi adalah kumpulan dari babarapa proses yang menghasilkan translokasi bahan organic, besi dan alumunium (dan sedikit P) dari lapisan atas tanah ke lapisan bawah, karena pengaruh ion H+dan senyawa-senyawa organic. Proses ini melliputi hal-hal berikut :
Akumulasi bahan organic
Pencucian dan pemasaman
Pelapukan mineral
Pemindahan bahan organic, Fe, Al (dan sedikit P, Mn,dan liat) dari horizon A ke horizon B
Immobilisasi Fe dan Al bersama asam humik dan asam fulvik (dan liat) di horizon B
Pembentukan pellet dari selaput organic
Pengurangan Bulk Density
Pemadasan
10. Ultisol (tanah-Tanah Dengan Pelapukan Lanjut, KB Rendah)
Ultisol hanya ditemukan di daerah-daerah dengan suhu rata-rata lebih dari 8oC. Ultisol adalah tanah dengan horizon argilik atau kandik bersifat masam dengan kejenuhan basa rendah. Kejenuhan basa (jumlah kation) pada kedalaman 1,8 m dari permukaan tanah kurang dari 35 persen, sedang kejenuhan basa pada kedalaman kurang dari 1,8 m dapat lebih rendah atau lebih tinggi dari 35 persen.
Proses Pembentukan Tanah
Faktor-faktor pembentuk tanah yang banyak mempengaruhi pembentukan untisol adalah:
Bahan induk: bahan induk tua, misalnya batuan liat, atau batuan vulkanik masam.
Iklim: harus ckup panas dan basa, di daerah iklim sedang dengan suhu tanah rata-rata lebih dari 8 Celcius, sampai di daerah tropika.
Vegetasi: di daerah iklim sedang didominasi oleh pinus. Di Indonesia vegetasi hutan tropika.
Ralief: Berombak sampai berbukit.
Umur: Tua
Proses pembentukn tanah ultisol meliputi beberapa proses sebagai berikut:
1)      Pencucian yang ekstensif terhadap basa-basa merupakan prasyarat.
2)      Karena suhu yang cukup panas dan pencucian yang kuat dalam waktu yang cukup lama, akibatnya terjadi pelapukan yang kuat terhadap mineral mudah lapuk, dan terjadi pembentukan mineral liat sekunder dan oksida-oksida.
3)      Lessivage, menghasilkan horizon albik di lapisan atas, dan horizon argilik di lapisan bawah
4)      Biocycling, meskipun terjadi pencucian yang intensif tetapi jumlah basa-basa di permukaan tanah cukup tinggi dan menurun dengan kedalaman.
5)      Pembentukan plinthite dan fragipan, plinthie dan fragipan bukan sifat yang menentukan tetapi sering ditemukan pada Ultisol.
6)      Perubahan horizon umbrik menjadi molik. Ultisol dengan epipedon umbrik dapat berubah menjadi epipedon mollik akibat pengapuran
11 Vertisol (Sifat vertik)
Bahan induk Vertisol umumnya bersifat alkalis, misalnya batuan sedimen berkapur, betuan beku basa, atau endapan alluvium dari bahan-bahan tersebut.
Proses pembentukan tanah telah menghasilkan suatu bentuk mikrotopografi yang khusus yang terdiri dari cekunagn dan gundukan kecil yang biasa disebut topograpi gilgai
12. Gelisol
Merupakan tanah mineral atau organik di daerah kutub yang mengalamicryoturbasi sehingga membentuk horison yang tidak teratur, pencampuran horison, akumulasi bahan organik di atas dan di dalam permafrost, fragmen, batuan teroriemtasi dan lapisan-lapisan yang diperkaya debu.
Proses crypedogenik yang menghasilkan bahan gelik disebabkan oleh perubahan volume dari air menjadi es, perpindahan air sepanjang gradien termal dalam sistem yang membeku dan lain-lain.
Karena suhu yang sangat rendah sepanjang tahun (permafrost), maka tidak ada tanaman yang tumbuh di daerah ini. (Hardjowigeno, 2003, Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis)
 himejasmine  



EROSI BO

EROSI TANAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN

I.EROSI MERUSAK KESUBURAN TANAH
Dengan adanya erosi tanah, maka lapisan tanah atas yang subur akan rusak dan menjadikan lingkungan alam lainnya akan rusak. Adapun sebab-sebab erosi tanah karena beberapa hal berikut.
· Tanah gungul atau tidak ada tanamannya.
· Tanah miring tidak dibuat teras-teras dan guludan sebagai penyangga air dan tanah yang larut.
· Tanah tidak diberi tanggul pasangan pasangan sebagai penahan erosi.
· Tanah di kawasan hutan rusak karena pohon-pohon ditebang secara liar sehingga hutan menjasi gundul.
· Permukaan tanah yang berlumpur digunakan untuk penggembalaan liar sehingga tanah atas semakin rusak
· Lapisan tanah atas merupakan bagian optimum bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan.
Komponen-komponen tanah adalah berupa mineral, bahan organik, air, dan udara. Keadaan tanah yang serasi bias menjadi habitat tumbuh-tmbuhan kalau perbandingan komponen-komponennya sebagai berikut: mineral 45%, bahan organic 5%, air antara 20-30%, dan udara tanah antara 20-30%.
Dipermukaan bumi, lahan atau tanah mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut disebebkan oleh beberapa hal, antara lain:


1. Tekstur tanah.
2. Permeabilitas tanah.
3. Ketebalan atau solum tanah.
4. Kemiringan lereng.
5. Tingkat erosi.
6. Penyaluran air.


Tekstur tanah didefinisikan sebagai perbandingan delatif berbagai golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi pasir, debu, dan lempung.
Pasir, debu dan lempengan disebut partikel zarah tanah. Berdasarkan ukurannya (diameter butirnya), partikel tanah dikelompokkan menjadi tiga fraksi, yaitu fraksi tanah, fraksi debu, dan fraksi lempung. Butir-butir tanah ataubatuan yang berdiameter di atas 2 mm disebut gravel dan tidak termasuk fraksi tanah.
Kalau unsur-unsur tanah hanya terdiri dari butiran butiran pasir, tekstur tanah itu kasar. Sebaliknya bila unsur-unsur tanah hanya terdiri dari lempung, tekstur tanah yang idela untuk pertanian adalah gelug, yaitu tanah yang lekat. Dalam pembuatan kerajinan keramik, bata, dan genteng, fraksi lempung sangat diperlukan. Penentuan kelas tekstur tanah dapat dilakukan dengan pedoman seperti grafik.


II.Tekstur dan Kesuburan Tanah
Tanah yang banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan lebih subur daripada tanah gundul atau ada tumbuh-tumbuhannya, karena didalamnya terkandung lapisan bunga tanah yang tidak terkena erosi. Akan tetap,ibila hutan-hutan ditebang tanpa batas, apalagi di daerah yang miring, maka erosi oleh air maupun angin dapat dengan mudah terjadi di tanah bekas injakan-injakan binatang.
Ciri-ciri tanah subur antara lain: tekstur dan struktur tananya baik, yaitu butir-butir tanahnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil; banyak mengandung garam yang berguna untuk makanan tumbuh-tumbuhan; dan banyak mengandung air untuk melarutkan garam-garaman
Tekstur tanah menunjukkan proporsi pelatif dari ukuran partikel-partikel tanah. Rentangan ukuran partikel yan terbesar dapat dijumpai dalam kelompok tamah lempung (clay) yang diameter partikel-partikelnya mempunyai ukuran 0,0002 mm hingga hamper sebesar molekul. Struktur tanah adalah susunan butir-butir suatu tanah. Pada umumnya, komposisi tanah terdiri dari 90% bahan mineral, 1-5% bahan organik, 0,9% udara dan air.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tekstur tanah antara lain komposisi mineral dan batuan /  bahan induk, sifat, dan cepatnya proses pembentkan tanah lokal, serta umur relatif tanah.
Hubungan antara tekstur dan kesuburan tanah tidak selalu ada meskipun tekstur tanah dapat menentukan atau bepengaruh dalam beberapa hal berikut.
· Pengerjaan tanah, misalnya tanah berpasir di daerah iklim basah biasanya cepat terurai. Selain itu, tanah tersebut berkapasitas rendah dalam menahan air, sehingga mudah mongering. Dengan menambah bahan-bahan organis, maka kesuburan tanah tersebut dapat ditingkatkan.
· Pengerjaan tanah berpasir di daerah beriklim kering (arid). Tanah di sini meskipun kadar bahan makanannya cukup tinggi, tetapi nilai kesuburannya rendah karena minimnya presipitasi, pencucian, dan rendahnya kapasitas menahan air.
· Pengerjaan tanah lempung. Dipandang dari sudut mudah tidaknya dikerjakan dan komposisi kimiawinya, tanah lempung mempnyai sifat yang bermacam-macam, diantaranya bersifat plastis dan sukar untuk diolah bila basah, serta keras jika kering. Namun, di daerah iklimtrpis basah tanah lempung memiliki permeabilitas walaupun rendah.
Permeabilitas tanah adalah cepat lambatnya air meresap ke dalam tanah melalui pori-pori tanah baik kearah horizontal maupun ke arah vertical. Cepat  /  lambatnya perembesan air ini sangat ditentukan oleh tekstur tanah. Semakin kasar tekstur tanah semakin cepat perembesan air.
Ketebalan atau solum tanah menunjukkan berapa tebal tanah diukur dari permukaan sampai ke batuan induk. Erosi menyangkut banyaknya partikel-partikel tanah yang terpindahkan. Drainase adalah pengeringan air yang berlebihan pada tanah yang mencakup proses pengatusan dan pengaliran air yan berada dalam tanah atau permukaan tanah yang menggenang .

III.Menjaga Kesuburan Tanah dan Usaha Mengurangi Erosi Tanah
Kesuburan tanah dapat dijaga dengan usaha-usaha sebagai berikut.
· Pemupukan, diusahakan dengan pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk buatan, dan pupuk kompos.
· Sistem irigasi yang baik, misalnya membuat bendungan-bendungan.
· Pada lereng-lereng gunung dibuat hutan-hutan cadangan.
· Menanami lereng-lereng yang telah gundul.
· Menyelanggarakan pertanian di daerah miring secara benar.
Kemiringan lereng adalah kemiringan suatu lahan terhadap hiding horizontal. Semakin besar sudut kemiringan lahan tertentu akan semakin besar kemungkinan erosi dan longsor.
kestabilan lahan pertanian daerah miring dan untuk mengurangi tingkat erosi tanah, maka diperlukan beberapa langkah berikut.
1. Terasering, Yaitu menanam tanaman dengan system berteras-teras untuk mencegah erosi tanah.
2. Contour Farming, yaitu menanami lahan menurut garis kontur, sehingga perakaran dapat menahan tanah.
3. Pembuatan tanggul pasangan(guludan) untuk menahan hasilm erosi.
4. Contour Plowing, yaitu membajak searah garis contur sehingga terjadi alur-alur horizontal.
5. Contour Strip Cropping, yaitu bercocok tanam dengan cara membagi bidang tanah itu dengan bentuk sempit dan memanjang dengan mengikuti garis kontur sehingga bentuknya berbelok-belok. Masing–masing ditanami tanaman yang berbeda-beda jenisnya secara berselang-seling (tumpang sari).
6. Crop Rotation, yaitu usaha pergantian jenis tanaman supaya tanah tidak kehabisan salah satu unsur hara akibat diisap terus oleh salah satu jenis tanaman
7. Reboisasi, menanami kembali hutan- hutan yang gundul.
Tingkat erosi suatu lahan akan sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanah untuk pertanian. Semakin tinggi / besar tingkat erosi tanah permukaannya berarti semakin tidak subur dan tidak cocok untuk tanaman petanian pangan.
Pengaturan air (drainage) suatu lahan juga berpengaruh terhadap kondisi kesuburan tanah. Jika pengaturan air jelek, maka tanah akan tergenang bagian permukaannya.
Tidak semua lahan di permukaan bumi dapat dimanfaatkan secara langsung oleh manusia karena terdapat kendala-kendala tertentu, seperti adanya lahan yang tertutup es yang tebal yaitu lahan di kutub dan di pegunungan tinggi, tanah-tanah yang gersang dengan suhu terlalu tinggi seperti lahan-lahan di gurun, lahan-lahan yang tidak subur, serta lahan-lahan yang terdiri atas batu cadas, yang semuanya sangat sulit diolah. Hanya lahan-lahan yang secara kualitatif sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan dalam pemenuhan kebutuhan manusia disebut lahan potensial.
Lahan potensial yang ada di permukaan bumi dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk nonpertanian antara lain dalam bentuk:
1. Pemanfaatan untuk lokasi industri.
2. Pemanfaatan untuk lokasi perdagangan.
3. Pemanfaatan untuk wilayah pemukiman.
4. Pemanfaatan untuk fasilitas-fasilitas sosial seperti hiburan, prasarana, transportasi dan fasilitas- fasilitas sosial lainnya.

Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam pengolahan lahan pertanian ialah produktivitas tanah pada lingkungan yang normal untuk menghasilkan tanaman tertentu. Contoh: tingkat produktivitas tanah bila ditanami padi adalah 5 ton/ha. Jadi produktivitas tanah menunjukkan tingkat produksi dan tiap satuan luas untuk tanaman tertentu.
Tingkat produktivitas tanah sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah, curah hujan, suhu, kelembaban udara, system pengolahan lahan, dan pemilihan jenis tanaman. Upaya peningkatan produktivitas lahan ini disebut program Panca usaha tani yang meliputi:
1. Pengolahan lahan.
2. Pengairan.
3. Cara pemupukan.
4. Pemberantasan hama dan penyakit
5. Teknik penanaman

IV.Lahan Kritis dan Lahan Potensial
Lahan kritis adalah lahan yang tidak produktif. Meskipun dikelola, produktivitas lahan kritis sangat rendah. Bahkan, dapat terjadi jumlah produksi yang diterima jauh lebih sedikit daripada biaya pengelolaannya. Lahanini bersifat tandus, gundul, tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian, karena tingkat kesuburannya sangat rendah.
Faktor- Faktor yang menyebabkan terjadinya lahan kritis, antara lain sebagai berikut:
· Kekeringan, biasanya terjadi di daerah-daerah bayangan hujan.
· Genangan air yang terus-menerus, seperti di daerah pantai yang selalu tertutup rawa-rawa.
· Erosi tanah dan masswasting yang biasanya terjadi di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan daerah yang miring. Masswasting adalah gerakan masa tanah menuruni lereng.
· Pengolahan lahan yang kurang memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan. Lahan kritis dapat terjadi di dataran tinggi, pegunungan, daerah yang miring, atau bahkan di dataran rendah.
· Masuknya material yang dapat bertahan lama kelahan pertanian (tak dapat diuraikan oleh bakteri) misalnya plastic. Plastik dapat bertahan ± 200 tahun di dalam tanah sehingga sangat mengganggu kelestaian kesuburan tanah.
· Pembekuan air,biasanya terjadi daerah kutub atau pegunungan yang sangat tinggi.
Pencemaran, zat pencemar seperti pestisida dan limbah pabrik yang masuk ke lahan pertanian baik melalui aliran sungai maupun yang lain mengakibatkan lahan pertanian baik melalui aliran sungai maupun yang lain mengakibatkan lahan pertanian menjadi kritis.Beberapa jenis pestisida dapat bertahan beberapa tahun di dalam tanah sehingga sangat mengganggu kesuburan lahan pertanian.
Jika lahan kritis dibiarkan dan tidak ada perlakuan perbaikan, maka keadaan itu akan membahayakan kehidupan manusia, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Maka dari itu, lahan kritis harus segera diperbaiki. Untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan oleh adanya lahan kritis tersebut, pemerintah Indonesia telah mengambil kebijakan, yaitu melakukan rehabilitasi dan konservasi lahan-lahan kritis di Indonesia.
Upaya penagggulangan lahan kritis dilaksanakan sebagai berikut.
1. Lahan tanah dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi pertanian, perkebunan, peternakan, dan usaha lainnya.
2. Erosi tanah perlu dicegah melalui pembuatan teras-teras pada lereng bukit.
3. Usaha perluasan penghijauan tanah milik dan reboisasi lahan hutan.
4. Perlu reklamasi lahan bekas pertambangan.
5. Perlu adanya usaha ke arah Program kali bersih (Prokasih).
6. Pengolahan wilayah terpadu di wilayah lautan dan daerah aliran sungai (DAS).
7. Pengembangan keanekaragaman hayati.
8. Perlu tindakan tegas bagi siapa saja yang merusak lahan yang mengarah pada terjadinya lahan kritis.
9. Menghilangkan unsure-unsur yang dapat mengganggu kesuburan lahan pertanian, misalnya plastik. Berkaitan dengan hal ini, proses daur ulang sangat diharapkan.
10. Pemupukan dengan pupuk organik atau alami, yaitu pupuk kandang atau pupuk hijau secara tepat dan terus-menerus.
11. Guna menggemburkan tanah sawah, perlu dikembangkan tumbuhan yang disebut Azola.
12. Memanfaatkan tumbuhan eceng gondok guna menurunkan zat pencemaran yang ada pada lahan pertanian. Eceng gondok dapat menyerap pat pencemar dan dapat dimanfaatkan untuk makanan ikan. Namun, dalam hal ini kita harus hati-hati karena eceng gondok sangat mudah berkembang sehingga dapat menggangu lahan pertanian.
Lahan potensial adalah lahan yang belum dimanfaatkan atau belum diolah dan jika diolah akan mempunyai nilai ekonimis yang besar karena mampunyai tingkat kesuburan yang tinggi dan mempunyai daya dukung terhadap kebutuhan manusia. Lahan potensian merupakan modal dasar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu harus ditangani dan dikelola secara bijak. Daerah diluar jawa banyak memiliki daerah produktif yang sangat potensial, tetapi belum atau tidak dimanfaatkan sehingga daerah ini dikenal dengan daerah yan sedang tidur.
Dengan pertumbuhan penduduk dan ekonomi, tekanan terhadap tanah semakin meningkat. Hutan di luar pualu jawa di ubah menjadi lahan pertanian, kawasan pertambangan, dan perkebunan. Sementara itu, lahan pertanian di pulau Jawa diubah menjadi kawasan pemukiman dan industri serta waduk. Kehutanan, pertambangan, dan pertanian juga dapat membuat tanah menjadi tidak produktif untuk kegiatan ekonomi lebih lanjut.
Program untuk meningkatkan produksi pangan dan perluasan pemukiman dalam skala besar-besaran telah memberikan kontribusi dalam pembukaan hutan dan belukar. Hal ini menyebabkan meningkatnya erosi, berkurangnya kesuburan dan produktivitas lahan, serta hilangnya habitat. Walaupun sejumlah kawanan alami, baik daratan maupunhutan, telah dilindungi dari dampak kegiatan manusia melalui penetapannyasebagai cagar alam dan taman nasional, sejumlahbesar lahan masih belum diusahakan oleh manusia secara optimal.
Lahan potensial merupakan modal dasar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidp manusia. Maka dari itu, harus ditangani secara bijaksana dalam pemanfaatan lahan potensial dan jangan sampai malah merusak lingkungan.

Lahan potensialtersebar di tiga wilayah utama daratan, yaitu di daerah pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi. Lahan-lahan di wilayah pantai didominasi oleh tanah alluvial (tanah hasil pengendapan). Tanahini cukup subur karena banyak mengandung mineral-mineral yang diangkut bersama lumpur oleh sungai kemidian diendapkan di daerah muara sungai.
Mulai dataran pantai sampai ketinggian 300 m dari permukaan laut merupakan areal lahan dataran rendah. Bila curah hujannya cukup memadai, zona dataran rendah ini merupakan wilayah lahan hutan hujan tropis yang sangat subur.
Mulai ketinggian 500 meter di atas permukaan laut merupakan wilayah tanah tinggi, kondisi wilayahnya merupakan lahan bergelombang, berbukit-bukit sampai daerah pegunungan. Bagi daerah-daerah tanah tnggi yang dipengaruhi oleh gunung berapi,kondisi lahannya di dominasi oleh tanah vulkanik yang subur yang terkandung mineral haranya cukup tinggi.
Daerah pegunungan yang memiliki curah hujan tinggi, merupakan daerah yang rawan erosi tanah. Selain proses erosi, di daerah-daerah yang memiliki crah hujan tinggi keadaan tanahnya biasanya berwarna merah kecoklatan (pucat), karena unsure-unsur hara dan humusnya banyak tercuci dan terhanyutkan oleh air hujan. Jenis tanah ini kurang subur. Conth tanah yang sudah banyak mengalami pencucian di antaranya tanah latosol dan tanah podzolik serta tanah laterit.
Upaya-upaya pelestarian dan peningkatan manfaat lahan-lahan potensial dilaksanakan antara lain dengan cara berikut.
1. Merencanakan penggunaan lahan yang digunakan manusia.
2. Menciptakan keserasian da keseimbangan fungsi dan intensitas penggunaan lahan dalam wilayah tertentu.
3. Merencanakan penggunaan lahan kota agar jangan sampai menimbulkan dampak pencemaran.
4. Menggunakan lahan seoptimal mungkin bagi kepentinganmanusia.
5. Memisahkan penggunaan lahan untuk permukiman, industry, pertanian, perkantoran, dan usaha-usaha lainnya.
6. Membuat peraturan perundang-undangan yang meliputi pengaliahn hak atas tanah untuk kepentingan umum dan peraturan perpajakan.
7. Melakukan pengkajian terhadap kebijakan tata ruang, perijinan, dan pajak dalam kaitannya dengan konversi penggunaan lahan.
8. Menggnakan teknologi pengolahan tanah, penghijauan, reboisasi, dan pembuatan sengkedan di aderah pegunungan.
9. Perlu usaha pemukiman penduduk dan pengendalian peladang berpindah.
10. Mengelola dengan baik daerah aliran sungai, daerah pesisir, dan daerah di sekitar lautan.


PENUTUP
KESIMPULAN
            Bahwa terjadinya erosi tanah disebakan oleh:
· Tanah gungul atau tidak ada tanamannya.
· Tanah miring tidak dibuat teras-teras dan guludan sebagai penyangga air dan tanah yang larut.
· Tanah tidak diberi tanggul pasangan pasangan sebagai penahan erosi.
· Tanah di kawasan hutan rusak karena pohon-pohon ditebang secara liar sehingga hutan menjasi gundul.
· Permukaan tanah yang berlumpur digunakan untuk penggembalaan liar sehingga tanah atas semakin rusak
· Lapisan tanah atas merupakan bagian optimum bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan.
Kemiringan lereng adalah kemiringan suatu lahan terhadap hiding horizontal. Semakin besar sudut kemiringan lahan tertentu akan semakin besar kemungkinan erosi dan longsor.
kestabilan lahan pertanian daerah miring dan untuk mengurangi tingkat erosi tanah, maka diperlukan beberapa langkah berikut.
1. Terasering, Yaitu menanam tanaman dengan system berteras-teras untuk mencegah erosi tanah.
2. Contour Farming, yaitu menanami lahan menurut garis kontur, sehingga perakaran dapat menahan tanah.
3. Pembuatan tanggul pasangan(guludan) untuk menahan hasilm erosi.
4. Contour Plowing, yaitu membajak searah garis contur sehingga terjadi alur-alur horizontal.
5. Contour Strip Cropping, yaitu bercocok tanam dengan cara membagi bidang tanah itu dengan bentuk sempit dan memanjang dengan mengikuti garis kontur sehingga bentuknya berbelok-belok. Masing–masing ditanami tanaman yang berbeda-beda jenisnya secara berselang-seling (tumpang sari).
6. Crop Rotation, yaitu usaha pergantian jenis tanaman supaya tanah tidak kehabisan salah satu unsur hara akibat diisap terus oleh salah satu jenis tanaman
7. Reboisasi, menanami kembali hutan- hutan yang gundul.

SARAN
            Saran yan g dapat saya sampaikan agar kita dapat menjaga lingkungan kita agar erosi itu dapa dicegah. Karena apabila terjadi erosi kerugian-kerugian akan muncul diantaranya bisa saja terjadi gagal panen, banjir,tanah longsor dll.   

DAFTAR PUSTAKA
BP2TPDAS-IBB. 2002. Lahan kritis.  Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah lahan indonesia Bagian Barat. Balitbang Kehutanan. Surakarta
Carolyn.2007. erosi tanah .http://salam.leisa.info/index.php?url. Diakses pada tanggal 2 Mei 2010 pukul 16.50 WIB.
Widada, 2001. Erosi tanah dan Upaya Pengeolaan Lahan. http://www.azack.com/PPS702-            ipb/03112/widada.htm. Diakses pada tanggal 2 Mei 2010 pukul 15.30 WIB.



Apakah penyebab & dampak erosi tanah?

Erosi tanah adalah proses pelepasan atau pelapukan partikel-partikel tanah oleh berbagai penyebab.
Erosi menyebabkan tanah menjadi tandus sehingga tidak dapat ditanami. Proses erosi berpotensi dipercepat oleh campur tangan manusia.
Erosi yang amat parah membuat tanah tidak produktif sehingga tidak ada vegetasi yang bisa tumbuh.
Tidak adanya vegetasi akan memicu kekeringan dan curah hujan rendah. Secara keseluruhan, siklus alam akan terganggu akibat terjadinya erosi.
Penyebab Erosi Tanah
Kecepatan aliran sungai yang tinggi merupakan salah satu penyebab utama erosi di lembah sungai dan daerah pesisir.
Tanah yag dilalui aliran sungai atau termasuk area banjir sungai menjadi terkikis. Sedimen ini kemudian ikut terbawa aliran sungai hingga ke hilir.
Angin merupakan agen penyebab erosi di padang pasir dan lahan kering. Angin memiliki kemampuan mengikis batu, tanah, dll dan memindahkannya ke zona yang berbeda.
Erosi tanah juga dapat disebabkan oleh gletser dan es. Partikel tanah bisa terkikis bersama dengan pergerakan gletser. Jenis erosi ini biasanya terjadi di wilayah yang tertutup es atau di dataran tinggi.
Faktor lain yang mempengaruhi erosi tanah adalah suhu, kecepatan angin, dan tingkat curah hujan di wilayah tertentu.
Daerah yang memiliki iklim panas dan lembab, kecepatan angin tinggi dan tingkat curah hujan sangat rendah rentan terhadap erosi tanah.
Penggembalaan ternak, penebangan hutan, dan kegiatan konstruksi turut menyumbang terhadap terjadinya erosi.
Dampak Erosi Tanah
Erosi tanah menyebabkan pengembangan struktur topologi baru karena pengendapan partikel tanah.
Tanah yang tererosi akan mengakibatkan penurunan produktivitas dan kesuburan tanah.
Akibat erosi, kadar air dan kandungan berbagai mineral dan nutrisi tanah akan sangat berkurang.
Pada akhirnya, lahan yang tandus dan tidak adanya curah hujan akibat erosi yang parah menyebabkan kekeringan.
Pengendalian Erosi Tanah
Penggantian vegetasi, reboisasi, serta menanami lereng adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan erosi tanah.
Selain itu, penebangan hutan liar juga mesti dikendalikan. Ladang berpindah yang banyak dipraktikkan juga harus dikurangi untuk mengendalikan erosi.[]



neewww
Faktor penyebab terjadinya erosi tanah 

Erosi adalah proses penghancuran dan pengangkutan pertikel-partikel tanah oleh tenaga erosi     (presipitasi,Angin) Proses erosi oleh air butiran air hujan mengenai tanah --> hancurnya agregat tanah terlepasnya partikel-partikel tanah--> Partikel-partikel tanah menyumbat pori-pori tanah--> Menurunkan kapasitas dan laju infiltrasi--> laju permuka'an--> energi pengangkut.

erosi fisik kimia -------> Bila aliran energi permukaan tidak mampu lagi mengangkut pastikel tanah-->partikel tanah di endapkan.

Tenaga dan faktor penyebab erosi 
·         erosion agent/ tenaga erosi: adalah tenaga pembawa yang berperan dalam sistem transport perpindahan tanah : presipitasi (air hujan ,salju, hujan es, dll) Angin
·         Faktor alam dan buatan  yang mempengaruhi erosi :
          E= F(I.T.V.Tp, M)
          
          I  = iklim
          T  = tanah
          V  = Vegetasi
         Tp  =Topografi
          M =Management
  Macam-macam erosi (Utomo.1987)
·         Erosi   alam/normal/geologi                                                                                                                           proses pengikisan kulit bumi atau lapisan tanah yang terjadi secara alami                                           cirinya :
1.     Prose berjalan sangat lamban
2.     Tidak ada campur tanagn manusia/ penyebabnya hanya dari alam akibatnya terlihat setelah berpuluh-puluh tahun.
·         Erosi dopercepat (accelerat erosion) tindakan manusia umunya bersifat mempercepat erosi sehingga erosi sehingga erosi yang dikenal dengan erosi dipercepat  (accelerat erosion)  batas erosi yang diperbolehkan (permissible erosion/PE) merupakan nilai laju erosi yang tidak melebihi laju pembentukan tanah penentuan PE mempertimbangkan kondisi tanah dan lingkungan yang mencakup
·         ketebalan lapisan tanah
1.     Sifat fisik tanah
2.     pencegahan terjadinya erosi selokan/ gully
3.     penurunan bahan organik
4.     kandungan hara tanah
5.     kecepatan pembentukan tanah

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking