Determinasi
kualitas perekat UF (urea formaldehida)
Dan PF
(phenolin formaldehida)
Swesty
Nadeak1, Evan E. Aritonang1, Sehat M. Pasaribu1,
Prancis Sinurat1, Jonny L Hutabarat1, Chamvion Marpaung1,Chaerul
Ginting1
Tito
Sucipto, S.Hut.,M.Si2
1Progaram Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian,
Universitass Sumatera Utara, Jl. Tri Dharma Ujung No.1 Kampus Usu Medan 20155
2Staff pengajar Program Studi
Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara
Abstrak
Papan partikel senantiasa menggunakan
perekat dalam pembuatannya. Perekat sintetis yang bersifat termoseting seperti
Urea Formaldehid, Melamin Formaldehid dan Phenol Formaldehid sangat umum
dipakai. Kualitas perekatan ditentukan oleh kualitas perekat, kualitas sirekat,
proses perekatan dan kondisi penggunaan produk hasil perekatan. Kualitas
perekat dipengaruhi oleh viskositas, kandungan resin padat, pH perekat, working
life dan sebagainya. Kualitas sirekat dipengaruhi oleh kadar air, kehalusan
permukaan, keterbasahan, kadar zat ekstaktif, pH kayu, struktur nantomi kayu
dan lain-lain. Jenis urea formaldehyde (UF) dapat dikerjakan untuk proses
perekatan panas (±100 0C ) atau dingin (±30 0C) . Proses
panas lebih umum digunakan pada pemakian non structural seperti industri kayu
lapis, proses dingin lebih sesuai untuk keperluan structural mengingat
ketebalan atau dimensi elemen yang direkatan. Perekat phenol formaldehyde (PF)
dapat berupa tepung, cairan (kental dan berwarna tua) atau lembaran (film),
dapat dikerjakan dalam proses panas (115-150) maupun suhu ruang (±20 0C
), juga telah dibuat dengan formulasi khusus cocok untuk rentang temperatur (20
– 90) 0C.
Kata kunci : Perekat, Papan Partikel, UF, PF
I. PENDAHULUAN
Kayu
merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan
kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh
bahan-bahan lain. Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian,
memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu. Sifat-sifat ini penting sekali
dalam industri pengolahan kayu sebab dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja
dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta jenis penggunaan yang memungkinkan,
akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya
apabila jenis yang bersangkutan terlalu mahal atau sulit didapat secara
berkesinambungan.
Beberapa
dekade terakhir ini terjadinya degradasi hutan dan deforestasi mengakibatkan penurunan
pasokan kayu solid yang berkualitas dari hutan. Sehingga perlu ada teknologi
pemanfaatan kayu dimensi kecil sebagai bahan kayu konstruksi. Salah satu
teknologi yang bisa digunakan adalah kayu laminasi. Balok laminasi (glued
laminated wood) merupakan suatu balok atau tiang yang dibuat dari beberapa
lapisan kayu dengan tebal masing-masing lapisan biasanya antara 2,5-5 cm
direkat satu dengan yang lainnya sehingga semua lapisan mempunyai arah serat
sama dengan sumbu memanjang ( Brown, 2001).
Perekatan
didefinisikan sebagai keadaan dimana permukaan disatukan oleh gaya antar
permukaan yang terdiri dari gaya valensi (aksi saling kunci). Perekat berfungsi
sebagai penggabung antar dua subtrat yang direkat, kekuatan perekatan
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sifat perekatnya sendiridan
kompatibilitas atau kesesuaian antara bahan yang direkat dengan bahan perekat
(Prayitno, 1996).
Urea
formaldehida merupakan salah satu jenis perekat yang banyak dipakai dalam
industri kayu lapis di Indonesia. Perekat ini dibuat tidak dalam bentuk siap
pakai, melainkan harus dilakukan pencampuran terlebih dahulu dengan ekstender
dan pengeras. Bahan tambahan yang banyak digunakan adalah tepung terigu
industri, yang sebagaimana diketahui bahan bakunya berupa gandum dan masih
diimpor. Bahan lain yang dapat dipakai sebagai ekstender adalah tepung tapioka,
tepung gaplek dan tepung sagu yang banyak terdapat di Indonesia. Penelitian
mengenai ekstender sudah banyak dilakukan, misalnya tapioka (Sumadiwangsa,
1955).
Proses
perekatan berkaitan dengan teknik perekatan dan pengempaan dari dari produk
perekatan. Produk hasil perekatan digunakan sesuai dengan tujuan penggunaan
produk, jenis perekat dan jenia sirekat. Tujuan penelitian ini adalah untuk
untuk mengetahui kualitas perekatan kayu laminasi dengan menggunakan uji
keteguhan rekat dan mengetahui pengaruh arah orientasi serat, berat labur dan
sistem pelaburan perekat terhadap kualitas perekatan kayu laminasi.
Papan
partikel senantiasa menggunakan perekat dalam pembuatannya. Perekat sintetis
yang bersifat termoseting seperti Urea Formaldehid, Melamin Formaldehid dan
Phenol Formaldehid sangat umum dipakai. Selain sebagai perekat, khususnya
Melamin Formaldehid banyak digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga
seperti piring, mangkok dan cangkir. Krisis energi mendorong untuk mendapatkan
perekat kayu dari sumber daya terbarukan, yaitu dari bahan-bahan
berlignoselulosa seperti kenaf (Masri, 2005).
Jenis
urea formaldehyde (UF) dapat dikerjakan untuk proses perekatan panas (±100 0C
) atau dingin (±30 0C) . Proses panas lebih umum digunakan pada
pemakian non struktural seperti industri kayu lapis, proses dingin lebih sesuai
untuk keperluan structural mengingat ketebalan atau dimensi elemen yang
direkatan. Penggunaan perekat jenis ini perlu control keasaman dan harus
ditambahkan bahan pengisi (filler) agar mengisi pori bahan yang direkat namun
ketebalan garis perekatan harus dikontrol untuk tidak lebih dari 0,1 mm agar
terhindar retak. Perekat UF juga mempunyai kelemahan terhadap air, suhu dan
kelemahan ekstrim sehingga lebih cocok digunakan untuk struktur terlindung
(Prayitno, 1996).
Tujuan
dari praktikum ini adalah untuk mengetahui determinasi kayu perekat UF (Urea
Formaldehida) dan PF (Phenol Formaldehida).
BAHAN DAN METODE
A. Bahan dan Alat
Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah UF (Urea formaldehida) dan PF (Phenol
Formaldehida), Alumenium foil, Air mendidih 100 0C.
Alat ya ng digunakan adalah oven, timbangan
elektrik, Viscometer Ostwald, gelas ukur, dan alat hitung.
B. Metode
Kualitas Perekat
Determinasi
kualitas perekat mengacu pada SNI 06‑4567-1998 mengenai Phenol Formaldehida
Cair untuk perekat kayu lapis antara lain;
Kenampakan
Prinsip uji kenampakan adalah
pengaturan secara visual amengenai warna dan adanya benda asing dalam perekat.
Cara determinasi perekat adalah :
1.
Contoh
perekat dituangkan diatas permukaan gelas datar lalu dialirkan sampai membentuk
lapisan film tipis.
2.
Dilakukan
pengamatan visual tentang warna dan keberadaan benda asing berupa butiran
padat, debu, dan benda lain.
Keasaman
(pH)
Pengukuran
pH adalah pengukuran banyaknya konsentrasi ion H pada suatu larutan. Cara
determinasi pH perekat mengunakan pH - meter adalah :
1.
Contoh
perekat dituangkan secukupnya kedalam gelas piala 200 ml dan diukur keasamannya
pada suhu 25 0C menggunakan pH meter
2.
Sebelum
dilakukan pengujian pH perekat, terlebih dahulu dilakukan standardisasi
pH-meter dengan larutan buffer pH 7 dan pH 10 pada suhu 25 0C.
Berat Jenis
Berat
jenis adalah perbandingan berat contoh terhadap berat air pada volume dan suhu
yang sama. Cara determinasi berat jenis perekat adalah :
1.
Piknometer
kosong yang bersih dan kering ditimbang (W1)
2.
Piknometer
diisi air dengan suhu 25 0C sampai penuh ditutup tanpa ada
geperekatbung udara
3.
Bagian
luar piknometer dibersihkan dan dikeringkan dengan tisu lalu ditimbnag (W2)
4.
Air
dalam piknometer dibuang sampai bersih dan keringkan
5.
Piknometer
diisi dengan contoh perekat samapai penuh dan ditutup tanpa ada geperekatbung
udara
6.
Bagian
luar piknometer dibersihkan dan dikeringkan dengan tisu, lalu ditimbang (W3).
Berat jenis perekat dihitung dengan rumus:
Beart Jenis = (W3 – W1)
/ (W2 – W1)
Kadar Padatan
Sisa
penguapan/kadar padatan adalah perbandingan antara berat contoh sebelum dan
sesudah dipanaskan pada suhu tertentu sampai berat tetap. Cara determinasi
kadar padatan perekat adalah :
1.
Contoh
perekat sebanyak 1,5 gram dimasukkan kecawan (W11)
2.
Selanjutnya
perekat dalam cawan dikeringkan dalam oven pada suhu 150 ±2 0 C
selama 1 jam
3.
Dinginkan
dalam desikator samapai mencapai suhu kamar, kemudian ditimbang
4.
Pengeringan
dan penimbangan dilakukan samapai diperoleh berat tetap (W2). Kadar
padatan ditentukan dengan rumus:
Kadar Padatan (%) = (W2/W3)X100
Waktu Gelatinasi
Waktu
gelatinasi adalah waktu yang dibutuhkan oleh contoh perekat untuk membentuk gelatin
pada suhu tertentu. Cara determinasi waktu gelatinasi perekat adalah :
1.
Contoh
perekat sebanyak ±10 g dimasukkan kedalam tabung reaksi
2.
Dipanaskan
diatas penangas air pada suhu 100 0C
dengan posisi permukaan perekat berada 2 cm dibawah permukaan air
3.
Amati
waktu yang dibutuhkan perekat tersebut untuk berubah wujud menjadi gel (gelatinasi) dengan cara memiringkan tabung
reaksi
4.
Perekat
yang sudah tergelatinasi ditandai dengan
tidak mengalirnya perekat ketika tabung reaksi dimiringkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
yang diperoleh dari praktikum yang berjudul Determinasi Kualitas perekat UF
(Urea Formaldehida) dan PF (Phenol formaldehida) ini adalah pada tabel 1
berikut :
|
Pengamatan
|
PF
|
UF
|
|
Warna
|
Coklat
|
Putih
|
|
Kotoran
|
Tidak
ada
|
Ada
|
|
BJ
|
1,19
|
-
|
|
Kadar
padatan
|
43,
75 %
|
61,25
%
|
|
pH
|
12
|
7
|
|
Gelatinasi
|
43
menit 19 detik
|
-
|
Warna
Dilihat
dari tabel 1. Pada pengamatan warna, PF
memiliki warna lebih tua (coklat) sedangkan UF memiliki warna putih. Hal ini
karena masing – masing perekat memiliki bahan dan kandungan yang berbeda. PF
bisanya mengandung resin, dan memiliki sifat tahan lama, dapat dikerjakan pada
suhu yang tinggi dan memiliki kadar asam (pH) yang tinggi. Hal ini sesuai
dengan peneletian Prayitno (1996), perekat phenol formaldehyde (PF) dapat
berupa tepung, cairan (kental dan berwarna tua) atau lembaran (film), dapat
dikerjakan dalam proses panas
(115-150) maupun suhu ruang (±20 0C ), juga telah dibuat
dengan formulasi khusus cocok untuk rentang temperatur (20 – 90) 0C.
Perekatan PF bersifat tahan cuaca, air dingin/panas, mikroba dan awet pada suhu
tinggi, namun kontrol katalis tidak baik akan terjadi keasaman yang
mengakibatkan kerusakan pada kayu. Penggunaan perekat resin ini secara luas
pada industri kayu lapis penggunaan luar ruangan.
Warna
UF lebih terang dan berwarna putih karena bahan bakunya biasanya adalah gandum
dan bahan tambahan utamanya adalah tepung terigu. Sehingga warnanya lebih
terang (putih). Dan biasanya dalam
penggunaanya perlu kontrol, dan tambahan filter. Hal ini sesuai dengan pendapat
Sumadiwangsa (1955), yang mengatakan bahwa Urea formaldehida merupakan salah
satu jenis perekat yang banyak dipakai dalam industri kayu lapis di Indonesia.
Perekat ini dibuat tidak dalam bentuk siap pakai, melainkan harus dilakukan
pencampuran terlebih dahulu dengan ekstender dan pengeras. Bahan tambahan yang
banyak digunakan adalah tepung terigu industri, yang sebagaimana diketahui
bahan bakunya berupa gandum dan masih diimpor.
.
Kadar padatan
Pada
perekat PF memiliki kadar padatan 43,75 % dan pada UF 61,25 %. Hal ini bisa
dikatakan perekat UF lebih padat disbanding perekat PF. Perekat PF dapat
dipergunakan pada suhu yang tinggi dan tahan cuaca, dan cair. Hal ini sesuai
penelitian Prayitno (1996), perekat phenol formaldehyde (PF) dapat berupa
tepung, cairan (kental dan berwarna tua) atau lembaran (film), dapat dikerjakan
dalam proses pana (115-150) maupun suhu
ruang (±20 0C ), juga telah dibuat dengan formulasi khusus cocok
untuk rentang temperatur (20 – 90) 0C. Perekatan PF bersifat tahan
cuaca, air dingin/panas, mikroba dan awet pada suhu tinggi, namun kontrol
katalis tidak baik akan terjadi keasaman yang mengakibatkan kerusakan pada
kayu.
Keasaman/pH
pH
pada perekat UF bernilai 7 (netral), sehingga sehingga lebih memiliki kadar
asam dan basa yang lebih baik dibanding PF. pH akan berpengaruh pada saat prose
perekatan dilakukan.
Gelatinasi
Gelatinasi adalah
waktu yang dibutuhkan oleh contoh perekat untuk membentuk gelatin pada suhu
tertentu. Pada Tabel 1. perekat PF membutuhkan waktu 43 menit 19 detik untuk
mencapai gelatinasi. Hal ini suhu air air panas sangat berpengaruh pada proses
gelatinasi ini. Dalam pengujian ini waktu gelatinasi telah memenuhi standart,
dan sesuai dengan penelitian SNI (2000), waktu gelatinasi adalah
waktu yang dibutuhkan perekat untuk mengental atau membentuk gel, sehingga
tidak dapat digunakan lagi. Waktu gelatinasi yang dihasilkan oleh perekat
likuida adalah > 60 menit, sehingga waktu gelatinasi perekat likuida ini
telah memenuhi standar SNI 06-4567-1998 yang mensyaratkan waktu gelatinasi
perekat likuida adalah ≥ 30 menit. Berdasarkan standar tersebut berati waktu
gelatinasi pada tingkat waktu berapapun diatas 30 menit maka perekat tersebut
telah memenuhi standar. Tingginya waktu gelatinasi tersebut diduga disebabkan
oleh adanya perlakuan pengenceran dengan menggunakan air dalam jumlah besar
sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat menguapkan seluruh
pelarut yang ada. Waktu gelatinasi yang lama dapat disebabkan karena pelarut
yang digunakan banyak sehingga pelarut tidak mudah menguap karena proses
penguapan.
KESIMPULAN
1.
Kadar
padatan perekat UF (61,25%) lebih tinggi disbanding kadar padatan PF (43,75%).
2.
Waktu
gelanitasi PF (43 menit 19 detik) sesuai
dengan sesuai dengan standard SNI 30 menit.
3.
Perekat
UF memiliki pH netral 7 dan perekat PF memiliki pH 12.
4.
Perekat
UF dapat digunakan pada suhu tinggi.
5.
PF
memiliki warna lebih gelap dan cair, dan UF memiliki warna lebih terang.
DAFTAR
PUSTAKA
Brown, H. P., A.J.
Panshin and C.C. Forsaith. 2001. Text Book of Wood Technology, volume II. Mc
Graw Hill Company, Inc. New York.
Masri,
AY. 2005. Kualitas Perekat Likuida Tandan Kosong Kelapa Sawit (Elaeis
guineensis Jacq) pada Berbagai Ukuran Serbuk, Keasaman dan Rasio Molar
Formaldehida Dengan Phenol. [Skripsi]. Departemen Hasil Hutan Fakultas
Kehutanan IPB. Bogor. Tidak dipublikasikan.
Prayitno, T.A., 1996,
Perekatan Kayu, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yoyakarta.
Sumadiwangsa, S. 1995. Viscosity and bond
quality of urea formaldehyde adhesive extended with acid modified
phosphorylated sagu (Metoxylon sp). Oregon State University. Oregon.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking